Selasa, 12 Mei 2020

Kisah Pak Wisnu, Sosok Tuna Netra yang Tidak Berhenti Berkarya


Sebuah karya seni memang tidak memiliki batasan apapun, termasuk keterbatasan fisik. Hal ini telah dibuktikan oleh Pak Wisnu. Ia memang memiliki keterbatasan fisik pada matanya yang tidak bisa melihat, namun hal tersebut tidak bisa menghentikan kecintaannya terhadap dunia seni teater yang sejak dulu ia tekuni. 

Siapakah sosok Pak Wisnu?

Wisnu Handaka atau lebih akrab disapa Pak Wisnu merupakan pria kelahiran Jakarta yang sudah sejak lama tinggal di tanah Sunda. Sejak SMP, ia tinggal di Sumedang bersama neneknya. Kemudian ia kembali pindah ke kota Bandung dan tinggal bersama sang paman. Di kota Bandung, ia mulai mendalami dunia kesenian ketika bersekolah di salah satu perguruan tinggi seni di kota Bandung. Kala itu, Wisnu memilih jurusan teater.  Ia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang aktor. 

Awalnya, Wisnu tidak memiliki kekurangan fisik apapun. Namun sesuatu terjadi pada sekitar tahun 2000. Saat itu, penglihatannya mulai mengalami penurunan. Hingga akhirnya ia melakukan operasi pada matanya. Namun sayangnya operasi yang dilakukan itu gagal dan justru membuat Wisnu harus menerima kenyataan untuk kehilangan penglihatannya dan membuatnya menjadi seorang tuna netra. 

Setelah menjadi tuna netra, Pak Wisnu mungkin harus mengurungkan cita-citanya untuk menjadi aktor. Namun kecintaannya terhadap dunia kesenian, terutama dunia seni peran tidak bisa dihentikan dengan keterbatasan fisik yang ia miliki. Di tahun 2007, Pak Wisnu sempat bergabung dengan Yayasan Wiyata Guna, sebuah yayasan di kota Bandung yang menjadi tempat bagi para penyandang disabilitas, terutama mereka yang merupakan tuna netra. 

Di yayasan tersebut, ia tidak berhenti berkarya. Buktinya, Pak Wisnu menjadi salah satu orang yang berperan dalam terbentuknya sebuah grup teater di yayasan tersebut. Kelompok teater tersebut diberi nama teater Palagan. Para anggotanya merupakan para penyandang tuna netra yang juga tinggal di yayasan Wiyata Guna. 

Di teater tersebut, Pak Wisnu berperan sebagai sutradara dan juga mentor yang mengajarkan ilmu-ilmu mengenai seni teater yang didapatkan selama berkuliah kepada para tuna netra disana. Komunitas teater yang ia dirikan ini tentu menjadi sebuah wadah yang positif agar para penyandang tuna netra di yayasan Wiyata Guna bisa menyalurkan hobi dan bakat mereka tanpa perlu terhalang oleh kekurangan fisik yang mereka miliki.

Meskipun dimainkan oleh para penyandang tuna netra, nyatanya teater Palagan mampu memberikan pertunjukan teater yang menarik dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Teater tersebut kemudian seringkali tampil di berbagai acara atau kegiatan. Hingga kini, Pak Wisnu masih sering aktif untuk berkesenian di berbagai forum atau komunitas dan menjadi sosok inspiratif bagi orang-orang. Ia menjadi bukti bahwa karya seni tidak bisa dihalangi oleh apapun, terlebih hanya sekedar keterbatasan fisik. 

Kebaikan untuk Pak Wisnu

Sosok Pak Wisnu merupakan sosok seniman yang sangat inspiratif. Ia tidak pernah menyerah dengan kondisi kesehatan yang dimilikinya. Untuk itu, kita bisa mencontoh kebaikan Pak Wisnu dengan menggunakan produk asuransi syariah AlliSya Protection Plus dari Allianz. Layanan asuransi ini mampu memberikan perlindungan bagi orang-orang di sekitar kita, seperti proteksi jiwa, penyakit kritis, biaya perawatan rumah sakit, dan masih banyak lagi.

Dengan menggunakan produk asuransi syariah Indonesia ini, kita juga bisa memberi sumbangsih terhadap orang-orang baik yang membutuhkan melalui iuran yang dibayarkan setiap bulannya. Selain itu, ada  juga fitur wakaf yang bisa kita gunakan untuk menyerahkan sebagian dana musibah bagi program sosial. Dengan adanya wakaf ini, tentu akan ada banyak orang yang terbantu.

#AwaliDenganKebaikan dengan menjadi anggota Allianz Syariah untuk membantu orang-orang seperti Pak Wisnu agar bisa tetap berkarya. Ajaibnya, semakin banyak kebaikan yang kita lakukan, semakin banyak pula manfaat yang bisa dirasakan, salah satunya adalah pemberian umroh gratis dari Allianz.